Kamu belum ngantuk kan? Aku punya dongeng, nih. Kamu harus denger! Gak panjang, kok. Tapi, dijamin ampuh bikin kamu bosan dan ngantuk.

“Awas aja kalau bahasanya ribet! Inget, gak usah sastrais banget sama aku, tuh! Kamu tahu kan aku ini cuma betah baca fanfic?!”

Lho, bagus dong? Kan tujuannya biar kamu bosan dan ngantuk? Hehehe.

“Halah. Yaudah, cepet! Sepuluh menit!”

Halah juga.

“Jadi ngedongeng gak? Cepetan. Keburu ngantuk, nih!”

JADI, JADI, SABAR DONG! Oke, jadi, pada suatu hari….

sebuah pesisir dengan bukit menjulang dan Terang Bulan, tinggalah seorang pangeran. Anggap saja, pangeran itu namanya persis dengan namaku. Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku itu adalah pewaris terakhir Kerajaan Larang. Hidup sebatang kara dengan dikelilingi tembok serta talud berupa bendung segi empat yang penduduk pesisir menyebutnya Istana Dhedhep.

Konon, Pangeran yang Persis Namanya dengan Namaku hidup dengan sebuah kutukan. Ia tidak bisa mencintai orang lain selain dirinya sendiri. Pernah sewaktu-waktu muncul rasa cintanya kepada ayah, ibu dan saudarinya sendiri — namun, keesokan harinya, mereka semua mati karena serangan jantung. Begitu pun dengan pengasuhnya, patih-patih, serta sahabat-sahabatnya — jantung mereka pun meledak dan mati sekejap.

Semenjak itu, Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku bersumpah untuk mengurung diri dan tidak akan mencintai siapa-siapa lagi.

“Bah? Ini perasaan baru mulai, tapi kok rasanya kayak udah mau ending? Terus, terus?!”

Siang ini, penduduk Kerajaan Larang dibuat kaget. Setelah 10 tahun tak pernah melihat sosok Pangeran yang Namanya Persis Dengan Namaku itu, tiba-tiba saja, ia kepergok sedang berjalan di luar Istana Dhedhep. Ia terhuyung-huyung menuju bibir pantai seorang diri. Tanpa patih, ataupun Dharmaputera. Spontan, berbondong-bondonglah penduduk menghampiri sang Pangeran. Mereka datang membawa dedak, tandanan pisang dan rupa-rupa kembang yang akan dipersembahkan kepada dewa laut Hyang Waruna sebagai rasa syukur atas kemunculan kembali sang Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku.

“Kalau Lintang Waluku jadi datang, malam ini aku akan terlepas dari kutukan. Aku akan beristri dan berkeluarga.”

Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku berdeklarasi kepada penduduknya dengan wajah cemerlang. Maka, berduyun-duyunlah mereka menuju debur ombak mengapungkan sesajen sambil khidmat berdoa. Dengan raut bahagia dan penuh harap, semua bergegas pulang mempersiapkan kehadiran Lintang Waluku dan Dewi Bulan malam nanti.

Menurut legenda Larang, setiap 50 tahun sekali saat Lintang Waluku muncul di Terang Bulan, akan ada kabut yang melingkupi pesisir laut. Di balik kepekatan kabut itu, akan ada sosok Dewi Bulan yang dipercaya Mpu Sedah sebagai satu-satunya gadis yang dapat melepas kutukan sang Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku. Bila berjodoh, mereka akan saling cinta dengan restu keabadian dari Sang Hyang Waruna. Dan hari ini, malam ini, jadi saat yang paling ditunggu oleh sang Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku itu.

Malam pun datang. Benderang rembulan dan kerumunan penduduk berpakaian Surjan menghantarkan sang Pangeran menuju arah tenggara menjemput debur ombak, kabut dan Terang Bulan. Sang Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku bergegas menerjang ombak menuju sekelebat cahaya di cakrawala. Kian ia menjauh dari pesisir, kian samar suara-suara meriah penduduk. Sesekali ia tengok ke belakang, hanya hening dan gelap yang melingkup. Namun, terang di hadapannya seperti membelai dan memanggil-manggil namanya. Perlahan, ia tanggalkan satu per satu pakaiannya yang semakin berat dan bau amis garam. Ia gelisah dengan riuh suara laut, namun perlahan-lahan ia mendengarkan namanya semakin lantang diucapkan oleh kabut. Melesaklah masuk ia ke dalam kabut, bersatu dengan benderang di Terang Bulan.

Lalu?”

Sosok gadis dengan kilatan-kilatan cahaya bulan di wajahnya muncul di antara kabut. Tersenyum manis kepada Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku. Melihatnya, ia tak kuasa menahan takjub. Maka, bergetaran sekujur tubuhnya sampai-sampai ia terisak dan tersedak-sedak.

“Wahai Dewi Bulan, benarkah? Benarkah, hari ini aku bisa mencintai tanpa membunuh siapa pun?”

Dewi Bulan yang namanya persis dengan namamu, perlahan bergerak menghampiri bagai kapas. “Tergantung. Apa kau mau ikut aku sebentar? Siapa sangka, di sana kau bisa mencintaiku?” jawabnya sambil membelai wajah Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku. Lalu, mereka tersipu-sipu bergandengan menuju lautan dan Terang Bulan.

Dan, hening seketika.

Dewi Bulan yang Namanya Persis dengan Namamu tiba-tiba menyentak melalui telepon nun jauh di sana, “LALU?!”

Pangeran yang Namanya Persis dengan Namaku hanya menggeleng dan terkekeh tidak tahu.

“Kampret betul. Terus, gimana?”

Sumpah, aku nggak tahu.

“Jadi, maksud dongeng ini apa? Pangeran sadboi ketemu Dewi Bulan?

Kamu sengaja bego atau emang beneran gak ngeh? Kamu tahu persis maksud aku.

“Hehehe. Lagian, ngedongeng ending-nya gantung? Apa sengaja?”

Nggak mau gegabah. Soalnya, nama pangerannya persis aku dan dewinya persis kamu.

“Ya, persis. Gak jelasnya juga persis!”

Jahat, eh.

“Tapi… kamu sayang, eh.”

Dih!

“Dih juga!”

Makasih lho, udah mau dengerin.

“Makasih lho, aku jadi gak ngantuk. Yang ada malah kepikiran.”

Jadi, gimana? Aku lanjutin aja dongengnya biar ada ending? Biar kamu gak kepikiran?

“O, masih pengen dilanjutin sampai ending?”

Tergantung, sih. Kamu mau?

“Nggak tahu. Biarin gitu aja kali ya? Nggak usah ada ending?”

Itu nanya?

“IYALAH. KAN SITU YANG PUNYA DONGENG!”

Santai dong, jangan ngamuk.

“Maap. Yaudah, terserah kamu aja.”

Yaudah. Gak jadi ada ending.

“Sepakat.”

Sepakat. Yaudah, sini peluk.

“Peluk.”

[.]