Empat Belas Kosong Empat Lima

Aktifitas menjadi resistan terhadap waktu. Waktu itu, sekitar pukul dua dini hari.

Aku menyusun kata-kata dalam hati setelah mendengar ujaranmu. Sedangkan jantungku masih berusaha beresonansi dengan bunyi tuts laptop di hadapanku.

Melihatmu penasaran dengan responsku, aku mulai terpancing untuk terkekeh. “Ya pasti tau, dong,” seruku dengan semangat.

Barisan gigi di wajahmu menunjukkan distraksi, menghentikan frasa dalam bias cahaya lampu-lampu kuning langsat. Bibir merah mudamu yang alami tanpa polesan apapun berusaha menghimpit kentang goreng tanpa berniat mengunyahnya.

Seperti dirimu, tak ku hiraukan dua bungkal cheese-burger serta cangkir-cangkir berisi kopi hitam yang sedari tadi menunggu untuk dibelai. Hanya terpatri empat bola mata yang enggan menghiraukan.

“Kamu terlalu stagnan terhadap waktu!”

Maksudmu?” tanyaku.

“Sejak kapan kamu mulai mempertanyakan waktu? Padahal, kita nggak tau apa yang terjadi sebelum waktu itu ‘dianggap’ ada.”

Sudut-sudut bibirku terangkat dengan pelan. “Empat belas kosong empat lima,” desisku.

“Maksudnya?” Alismu bertaut. Ketika hendak menyambangi kalimat yang samar-samar singgah di pendengaranmu.

“Ibarat angka, kita membatasi apa yang kita tidak ketahui.”

“Jadi, angka itu cuman membatasi dan terpaksa dibatasi. Gitu?” Mata bulat dengan kelopak yang elok tanpa hiasan itu berkelat kebingungan. Sedangkan aku, mulai sedikit gusar dengan antrian yang menumpuk di belakangnya.

“Bukan, bukan begitu. Tapi, angka sengaja dibatasi untuk mendapatkan apa yang kita butuhkan.” Kepalaku memberi kode ke arah antrian yang ia lihat. “Tuh, kayak antrian itu.”

“Apa hubungannya coba?”

“Apa ya, mungkin bisa dibilang sebagai sebuah integritas absolut yang kasat mata. Em, kan, integritas emang gak keliatan. Ya, gitu deh,” jawabku dengan ragu.

Nampaknya dirimu mulai terheran-heran dengan keraguanku. Laksana interogator, kamu bertutur dengan niat menyerbu, “Jadi, integritas itu emang harusnya dibatasi? Atau gimana? Di mana coba tolok ukur dalam menentukan epistem dari integritas itu? Padahal dalam wujudnya, ada nilai, sistem, norma, yang berdiri sebagai monster purba di belakang kita, dan, sewaktu-waktu monster itu bisa menerkam dan membunuh dari dalam. ”

Menyadari bahwa dirimu terlalu bergolak, jemarimu mencoba mengelak pada tumpukan kentang goreng yang berserakan di atas meja.

Ada pesona ketika menyaksikanmu berapi-api terhadap suatu hal. Dan itu … membuatku mencintaimu.Tentu, dalam diam. Dalam perasaan yang tak kubiarkan berkobar. Yang aku bisa lakukan ialah membiarkan api kecil itu meletup-letup dalam gelap. Dengan harapan ia tak padam di dalam kesunyian.

Helaan napas panjang menjadi awal untuk mengakhiri niatku membatin. Sekaligus merunut kembali serbuan pertanyaan yang dilontarkan olehmu kepadaku.

“Itu antrian dibatasin sama kasir, kasir dibatasi sama manajernya begitu terus sampai atas. Integritas menjadi terbatas di sini. Ada otoritas yang membatasi. Ada yurisdiksi, namun tataran itu nggak saling menghakimi dan mendominasi. Keliatannya emang seperti mekanisme tunggal. Tapi, ini adalah keteraturan dari sekumpulan otoritas itu,” gamblangku dengan mantap.

Hantaran penjelasanku menghasilkan buih-buih keraguan di wajahmu. Hingga akhirnya dirimu mereguk secangkir kopi di hadapanmu. “Sebentar, sebentar,” sergahmu sambil menodongkan telapak tanganmu di hadapanku. “Jadi, kamu mau bilang kalau kita berada pada mekanisme zero sum game? Gitu? Dengan industrialisasi peradaban sekarang, jelas, manusia udah berada pada positive sum game dong! Kamu murtad nih dari David Salvatore!” protesmu sambil terbahak.

Aku ikut bereaksi ketika melihatmu berseloroh dengan penjelasanku.

“Sama kan kayak konsep ketuhanan? Agama? Harus ada suatu material non-majemuk untuk meraih kesadaran yang homogen, ya, sistem yang ‘diangkakan’, itu pemaknaan sebuah integritas. Seharusnya bukan absolut, tapi rekonstruksi sistem kesadaran yang homogen.” Aku bergeming sendiri setelah sadar tentang apa yang aku katakan. “Simpelnya, tidak ada integritas absolut. Bisa dibilang, tuhan, atau ya, ketuhanan itu adalah otoritas kolektif yang menyatu ke dalam satu sistem. Sebuah sistem kesadaran homogen.”

Mulutmu membulat .“Hah? Gak terlalu gegabah tuh?”

“Gegabah?” Aku tertawa, kendati punggungku membenturkan permukaanya di sandaran kursi. “Ketuhanan itu aku ibaratkan kayak entropi. Atau semacam keseimbangan energi. Hukum termodinamis, di mana integritas hanya berpindah dan terdistribusi. Nggak ada yang bisa menciptakan kekuatan, atau diciptakan sama kekuatan. Ia cuma terbagi dan berpindah.”

Kamu tampak menyerah menanggapiku. “Well, kalau sistem ketuhanan diibaratkan entropi, suruhannya apa dong? Diversifikasi kekuatan itu sendiri?”

“Ya, pionir batasan itu sendiri. Kita, bisa dibilang sebagai sosok batasan yang sengaja dibuat untuk membatasi prakarsa tuhan yang sesungguhnya. Karena ciptaan bisa menjadi ancaman buat penciptanya. Vis a’ vis! Kadang kita ngerasa tuhan itu ancaman bagi eksistensi manusia itu sendiri. Saling bercermin, dan kita, manusia, adalah cerminan tuhan itu sendiri,” ujarku sambil menebak-nebak ekspresimu setelah ini. “Yang pada faktanya, ketuhanan dalam konteks ‘guyon’, itu hadir karena bisnis yang paling menguntungkan di dunia ini,” lanjutku sebelum dirimu berusaha menyimpulkan apa yang kujelaskan sebelumnya.

Matamu terbelalak. “Bisnis? Apaan?”

“Bisnis ketakutan,” jawabku lantang.

Spontan, wanita dengan wajah sendu yang sejuk di hadapanku saat ini merefleksikan gestur meledak-ledak. “Takut masuk neraka! Takut mati! Takut miskin! Takut sakit!”

Aku terpojok dengan runtutan seruan yang keluar dari mulutmu. “Ya, begitulah,” balasku dengan tangan terangkat. “Nggak mungkin kan, sistem bisnis ketakutan bisa dipegang subjek tunggal. Bisnis makanan aja mustahil bisa jalan kalo dikerjakan sendiri.”

“Empat belas kosong empat lima!”

Merasa dalam satu frekuensi yang sama, wanita itu bersenandung dalam tawanya. Dan aku hanya terpesona melihatnya.

“Ya, kan, tuhan juga ada paket delivery-nya! Tinggal telepon langsung on the way!”

“Tapi, emang bisa delivery kalo gak ada pegawainya?”

Kita pun hanya tertawa panjang dengan berharap tidak ada akhir di balik tawa itu. Itu pun tergantung waktu yang ‘membatasi’ atau bahkan waktu yang berhak memutuskan awal dan akhir yang sebenarnya.

Lantas, siapa itu waktu?

[***]

Bandung, 8 Agustus 2017.