“Aku (TUHAN) akan mengadakan permusuhan antara engkau (ular) dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”Kejadian 3:15

Duka-Nya luruh ketika Adam memilih pusara.

Di hamparan sebuah taman yang luasnya tak berujung, Adam berjalan-jalan sambil menjawat lengan Lilith dengan senyum yang membasut di wajah mereka. Bagaimanapun terik terpancar, ketidaksadaraan mereka belum mengelak untuk jeda. Itu pun hanya berbuah cekikikan Lilith yang geli dengan tingkah Adam.

Sejauh mata Adam memandang, mengalir sebuah sungai dengan gemercak bak harpa yang ditempa Azrael. Adam selalu takjub dengan penampakan itu. Walaupun tak jarang ia menjajaki tepian dan hampir terperosok karena saking gembiranya. Sebagaimana perasaan itu tergugah kembali, Adam memastikan Lilith untuk duduk sebentar mendamba silir di tepian sungai.

“Inginku duduk sebentar di tepian. Mari, selagi rerumputan masih berlumang asiri,” ajaknya.

Lilith terpaksa mengangguk. Walaupun sebenarnya keengganan begitu nampak di wajahnya. Akan tetapi wangi asiri terlanjur berkelebat di penciumannya, sehingga menggoda Lilith untuk menghempas di antara hamparan rumput, yang pangkalnya berbulir akibat sibaran air sungai yang tempias membentur bebatuan. Dan tanpa ia sadari, Adam telah merata dengan permukaan lembap yang ia jajaki itu. Tak urung niatnya untuk segera bersemayam di samping Adam.

“Tidakkah kau merasa jenuh? Sama sekali tak kau teguk air di Pison. Sampai-sampai aku pun tidak melihat kau meneguk air di Efrat,” keluh Lilith. Selagi ia mengetahui, bagaimana Adam hanya berpihak pada satu aliran air yang paling ia tidak kehendaki.

Sementara itu, Adam hanya diam menyelidiki pilinan angin. Tatapannya tak bisa mengasingkan rupa-rupa kembang yang sedang riang berdendam. Kendati kekasihnya, Lilith, hanya sibuk berbaring di sampingnya menyambangi langit.

“Sayang,” gumam Adam dengan meninggalkan jeda. “Coba kau lihat, betapa bunga-bunga di sini tampak gelisah.”

Seketika Adam melungguh dengan cekat; Lilith hanya setengah menoleh ke arahnya. Lekat-lekat ia menempelkan bola matanya pada mahkota ranum berwarna terang, sebelum akhirnya ia mencabut salah satu tangkainya dan berserapah. “Lihat! Adakah kemungkinan kalau-kalau, angin ini membawa kegelisahan?” hardiknya.

Kali ini Lilith benar terpengarah. Dengan sabar, ia hendak menenangkan kegamangan kekasihnya itu. Melalui lentikan lengannya, ia daratkan telapaknya dahulu di pundak Adam sambil mengelus perlahan. “Adam, tenang,” rayunya.

Walaupun air terjun kegelisahan di wajah Adam semakin deras adanya, Lilith sadar dirinya adalah sebongkah dahan jati yang tak diizinkan menderai. Tiada alasan membantah Adam, dirinya ada untuk melayani.

Bunga yang direngkuh Adam di hadapannya saat ini seolah berteriak, menjeritkan isi hati Lilith yang dituntut tercerabut. Di kala sinar menggelayut di atas kepalanya hingga gemerlap tak urung meninggalkannya, ia harus menerima bahwa segala yang diciptakan Tuhan adalah untuk keturunan Adam.

Semesta ini berpihak pada pria. Rutuknya pada lubang di palung kesadarannya. Tuhan tahu, namun menyimpulkan abai. Tiada kesetaraan pada apa yang mereka injak-injak saat ini. Untuk bercinta, sekalipun hanya sekadar meraih biji tanpa kesadaran mutlak.

Tidak ada kesetaraan, di atas tanah yang menciptakanku dan keturunanku.Dan Lilith-lah yang menyadari itu, bijih dari biji pengetahuannya. Hanya ia yang memiliki itu.

Tiba-tiba, sekelebat aroma kacang badam dari batang bunga yang Adam petik mengisi penciuman mereka. Adam masih menyambangi kegelisahan itu. Lambat laun terang pada mahkotanya pudar berganti arang. Lenyap.

Dengan segera, Adam menciduk air dari tepian kendati membasuhkannya pada sisa tangkai yang hampir sekarat. “Lilith, ia nampak kesakitan!” lirihnya.

Menyertai polah Adam, Lilith mulai berempati. “Kau lupa, Adam? Tidak ada yang diizinkan sekarat di taman ini.”

Bersamaan dengan perkataannya, tangkai buntung yang sempat lenyap tadi bertumbuh menjadi kembang yang baru. Cemerlang dan beraroma manis menggiurkan. Satu, dua, dan tiga lebih lebah madu silih bergantian mengunjunginya. Disambut wajah semringah Adam yang takjub dengan pemandangan itu.

“Lihat. Tidak ada satu jengkal pun kesengsaraan dibiarkan tumbuh. Bagaimana mungkin kau melupakan kuasa Tuhan-mu di bawah langit yang penuh nikmat ini?” jelas Lilith.

Cakrawala di wajah Adam kembali meradang. “Maafkan aku. Tiada maksud untuk melanyak kuasa-Nya,” tenggangnya memohon ampun. Ia tersekat perasaan murung. Dan perasaan itu mengetahui ke mana ia akan bermuara.

“Lalu, apakah Tuhan merusak, Lilith?”

Hampir tanpa jeda, Lilith menggeleng. Namun sesegera mungkin mengindahkan pertanyaan Adam. “Ia selalu mengizinkan. Selagi ‘sesuatu’ itu mendapatkan izin untuk rusak,” tuturnya, sambil memapah Adam yang membungkuk menyembunyikan gelisah.

Adam berdiri dan memandanginya; berhadap-hadapan. Hingga keempat bola mata itu berkelat, masih jelas terasa kecenderungan untuk menenangkan tertumpu pada Lilith. Dengan elok, dan tanpa tergesa, tersimpul sebuah senyuman di wajah Adam.

“Dengar,” pinta Adam. “Sedapat-dapatnya mata ini terbuka untuk menyaksikanmu, dan sedapat-dapatnya tubuh ini diciptakan-Nya dari materi yang sama denganmu, Lilith, kau hanya, dan selamanya akan diperistri olehku.”

Lilith menampik sentuhan jemari Adam yang hendak membelai bibirnya. “Dengarkan,” Lilith menjerkah, “Adam, kamu boleh bersumpah ke manapun kau bisa di bentangan taman Eden ini. Tapi, dari tanah tempat aku tercipta, adakah suratan yang menempatkan aku sebagai wanita, diciptakan hanya untuk diperistri olehmu? Apakah Ia (Tuhan) mengizinkanmu begitu? Hanya kamu?”

Kelekapan yang hangat tadi, lamat-lamat membias dalam perasaan Lilith yang mendadak berang. Adam tak menyangka serangkaian puji-pujian berubah menjadi seranah yang salah arah. Dan ia, tentu, hanya kebingungan dan berusaha menemukan kejernihan dari apa yang sebenarnya terjadi.

“Sayang, tentu maksudku tidak demikian rupanya. Dengarkan,” pintanya sambil menyandang lengan Lilith, “Tercipta tanpa sadar memiliki kesadaran bukan lagi persoalan kenapa aku berkeliaran di sini. Sudah selesai, dan Tuhan memilih untuk tidak menjawabnya. Sekaligus, Ia menciptakanmu sebagai jawaban atas pertanyaan itu. Lantas, apa tujuanmu diciptakan-Nya selain untukku semata?”

Kegeraman di benak Lilith semakin menjadi-jadi. Dari genggaman tangan Adam, ia menghempaskan genggaman lengan Adam sekuat tenaga sambil melaungkan kekesalannya.

“Sombong sekali! Tidakkah kamu sadar betapa kamu, Adam, secara tak langsung mengatakan bahwa Tuhan menciptakan aku sebagai pelacur? Yang selalu kamu tempatkan aku di bawahmu?!”

Derap langkah kaki Lilith membawa pergi kemurkaannya dari Adam sejauh mungkin. Di bawah terik yang membutakan, ia mengenyahkan gusar ke dalam bayang-bayang pepohonan. Dengan isak tangis yang memuakkan, ia tinggalkan Adam dengan taksis tak berkesudahan.

***

b e r s a m b u n g [,]