Kesepian: Disrupsi Emosional yang Kian Banal

Menyoal kesepian di tengah ingar bingar teknologi dan media sosial, menjadi fenomena yang kerap dianggap subliminal.

Dari ribuan hingga jutaan byte data yang dicerna otak manusia setiap harinya, mestinya tidak ada celah sedikit pun untuk seseorang merasa hampa atau kesepian. Sayangnya, di era disrupsi yang membikin segala macam tetek bengek kehidupan terhubung dalam satu genggaman, tidak sedikit di antara kita yang merasa terisolasi dan sulit “terhubung” dengan orang lain.

Fenomena kesepian, serta kaitannya dengan media sosial merupakan kolaborasi yang beken ketika dikaitkan konten. Peralihan konten media sosial dari segala-gala yang mesti sempurna dan amikal, telah menyentuh dimensi psikologis privat pengguna yang rentan dianggap “aib”. Entah unggahan-unggahan depresif dengan lirik lagu, atau hanya sekadar kutipan-kutipan retoris yang menunjukkan: seberapa pengunggah merasakan kesedihan, atau kesepian karena ditinggalkan orang yang dicintainya.

Walaupun kerap diabaikan, pada kenyataannya, kesepian lebih dari sekadar tren psikologis yang sering disepelekan.

Image by Carine Khalife

Kesepian dan kesendirian

Sama halnya dengan kegembiraan, kelaparan dan kemarahan; kesepian adalah bagian alami dari “menjadi manusia” (Rokach, 1990:39). Jenny de Jong (1987) mendefinisikan kesepian sebagai situasi yang dialami oleh individu dimana terjadi kekurangan kualitas hubungan tertentu yang tidak menyenangkan atau tidak dapat diterima.

Di sisi yang berseberangan, istilah kesepian masih menjadi perkara guyon. Stigma sosial terhadap pemaknaan kesepian yang cenderung negatif, telah mempersempit kepekaan kita terhadap kompleksnya konsep kesepian itu sendiri. Akibatnya, beberapa orang yang mengalami defisiensi relasi intim dengan orang lain atau orang terdekatnya, enggan mengakui bahwa dirinya kesepian.

Berdasarkan survey daring yang dilakukan oleh The Mental Health Foundation pada bulan Maret tahun 2010 di Inggris, 42% dari 2,256 responden mengalami depresi karena merasa kesepian. Dan 11% dari jumlah yang sama pernah mencari bantuan karena merasa kesepian. Interpretasi sederhana dari survey tersebut memantapkan asumsi bahwa kesepian bukan cuma perihal jumlah relasi pertemanan saja, melainkan seberapa berkualitas hubungan seseorang, dan seberapa jauh ia menginvestasikan hubungan emosional dengan orang tersebut.

Meskipun demikian, beberapa di antara kita banyak yang memilih hidup sendirian. Pastinya, beberapa orang yang memilih hidup sendiri belum tentu merasakan kesepian. Begitupun dengan orang yang berkomitmen pada hubungan fisik di dalam keluarga atau rumah tangga, belum tentu mereka sudah aman dari perasaan kesepian.

Premis inilah yang mengantarkan kita pada istilah kesendirian (aloneness). Persamaan konsep yang berkesinambungan antara kesepian (loneliness) dan kesendirian (aloneness) mengharuskan keduanya disandingkan dan diuraikan secara bersamaan.

Kesendirian (aloneness) diindikasikan sebagai bentuk isolasi sosial yang didasarkan atas keinginan untuk memilih sendirian dibandingkan berada dalam keramaian (Jacobs, 1978). Sedangkan kesepian (loneliness) cenderung memproyeksikan seseorang yang merasa bahwa mereka sendirian — bahwa mereka tidak punya pilihan dalam masalah ini — dan bahwa mereka tidak ingin berada dalam kondisi itu. Merujuk pada definisi tersebut, pernyataan popular perihal “ … merasa kesepian dalam keramaian, dan bahagia dalam kesendirian,” rasanya semakin valid dan relevan.

Nyatanya, siapa pun bisa memilih untuk sendirian. Tapi tak ada yang dapat memilih untuk kesepian.

Sapien dan alien yang terluka

Beberapa penyebab kesepian dapat membawa kita pada pengasingan diri yang kronis dengan beberapa penyebab tertentu (Kraus et al. 1993). Situasi asosiatif yang menyebabkan kesepian dan paling umum terjadi, misalnya, kehilangan seseorang yang melibatkan gangguan dalam hubungan personal (Carr & Schellenbach 1993).

Kehilangan tidak hanya melalui kematian, bisa juga karena putus cinta, perselingkuhan atau pertengkaran dengan sahabat. Instrumen sosial yang memiliki hubungan sebab akibat secara personal juga ikut menjadi penyebab umum di dalam kesepian dan memantapkan proses alienasi.

Sejak homo sapiens gemar membuat kontrak untuk bertahan hidup, dikucilkan oleh kerabat, teman atau keluarga menjadi sebuah malapetaka yang wajib manusia hindari. Siapa sih yang tidak sakit hati etika ditinggalkan?

Alienation-connectedness continuum Kraus, 1993)

Diskursus yang berseliweran di tengah masyarakat mengenai konsep-konsep kesepian sangat dipengaruhi oleh sentimen sosial yang sifatnya kontinyu. Kontinyu yang dimaksud sangat tergantung dari pilihan-pilihan yang menentukan; apakah ia memilih untuk sendirian atau benar-benar kesepian karena ditinggalkan, dan juga dipengaruhi faktor-faktor eksternal yang diakibatkan konstruksi sosial tertentu. Nah, dari sinilah segalanya jadi semakin ruwet.

Seperti rasa lapar, kesepian merupakan sebuah prosedur sistematis yang membuat otak kita menaruh perhatian lebih pada kebutuhan sosial. Kebutuhan sosial menjadi bagian vital dari intrumen biologis manusia. Walaupun hanya nongkrong dan bersenda gurau perihal masa depan dengan kekasih, sejak dulu, otak kita didesain menjadi kemasan laten yang membutuhkan orang lain untuk tukar tambah empati. Makanya, hal-hal sederhana seperti: tidak memiliki teman untuk menghabiskan akhir pekan bersama dan tidak tahu harus mengajak siapa untuk makan siang nanti, melahirkan perasaan yang, tentu saja kadang kali tidak mengenakkan.

Secara historis, mekanisme bertahan hidup manusia sangat bergantung pada ikatan sosialnya (social bonds). Seleksi alam telah menempatkan manusia sebagai makhluk kolektif untuk membangun ikatan sosial yang kontinyu. Untuk berburu memenuhi kalori, bercocok tanam dan bertahan dari ganasnya musim dingin sangat muskil dilakukan sendiri. Bagi nenek moyang kita ancaman terbesar manusia bukanlah diburu atau diterkam hewan buas, melainkan dikucilkan dan ditinggalkan sendirian oleh komunitasnya. Konon, hidup sendirian sama saja mendekatkan diri pada ajal.

Untuk menghindari skenario kematian seperti ini, otak kita memproduksi algoritma semacam: social pain. Otak manusia masih sama adanya seperti nenek moyang kita jutaan tahun yang lalu. Dan itulah mengapa, kesepian karena ditinggalkan dan dikucilkan sangatlah menyakitkan.

Who contemplates, aspires, or dreams, is not ALONE: he peoples with rich thoughts the spot. The only loneliness how dark and blind!
Is that where fancy cannot dupe the mind;
Where the heart, sick, despondent, tired with all, looks joyless round, and sees the dungeon wall.

— Scipio

Lalu, mengapa begitu bangga kita menjadi alien di rumah sendiri?

Jiwa-jiwa kesepian yang kerap menuntun pada kematian

Representasi efek, penyebab dan faktor kesepian (Holmen, 1992).

Sejumlah penelitian yang menitikberatkan faktor kesepian pada individu dan interaksinya, menemui jalan buntu dengan rumitnya spektrum kesepian itu sendiri (Holmen et al. 1992).

Isolasi interpersonal yang sering menjadi perdebatan sebagai indikator utama penyebab kesepian, tak bisa lepas dari fakta bahwa setiap individu itu unik.

Perihal depresi, low self esteem, opresi berbasis gender hingga relasi interpersonal yang toksik, seciamik apa pun metode telaahnya, hingga hari ini belum ada analisis presisi bagaimana bisa kesepian menjadi epidemi yang menggerogoti manusia dan tak jarang menuntun pada kematian.

Di berbagai skenario yang menyeramkan, sudah selayaknya para peneliti mulai melakukan arisan-arisan yang produktif. Bukan lagi gapah-gopoh meneliti tipe-tipe orang yang rentan terhadap kesepian, tapi lebih fokus ke bagaimana gangguan yang menyusahkan ini dapat dikurangi. Bermacam-macam episode kesepian tentunya menjangkiti siapa saja. Dan tentu ini bergantung pada pengalaman pribadi setiap orang akan sangat subjektif dan rumit. Sekali lagi, kesepian merupakan pengalaman universal. Layaknya lotre, itu tergantung kemahiran kita dalam merespons atau memberikan sambutan.

Mudah saja kok’

Dalam keadaan kronis, kesepian menyebabkan kita mudah berprasangka buruk terhadap orang lain. Hal ini disebabkan oleh mekanisme defensif yang menstimulus otak menjadi lebih reseptif dan waspada terhadap mimik, intonasi dan ucapan seseorang. Interpretasi yang negatif inilah yang cenderung membuat kita menjadi lebih sentris, berusaha berlindung dari prasangka orang lain yang dapat membuat kita sakit.

Agar tidak pailit dalam siklus laten yang diakibatkan oleh kesepian, hal pertama yang harus dilakukan adalah menerima bahwa diri kita merasa kesepian.

Jangan tabu dan malu, sebab setiap orang pasti merasakan kesepian. Dan hal tersebut adalah bagian dari mekanisme biologis dan psikologis kita sebagai manusia.

Melatih relationship muscle. Sekali kita gagal untuk memiliki hubungan yang meaningful dengan seseorang, kita akan memutuskan untuk berhenti melakukan investasi emosional yang mendalam ke dalam sebuah relasi interpersonal. Di situ pula kita akan kehilangan keterampilan relationship muscle untuk mempertahankan hubungan dengan seseorang. Sama halnya seperti ‘otot’, keterampilan tersebut harus dilatih secara berkala. Simpel kok, memutuskan menghubungi kerabathari ini, mengajak teman kantor ngopi atau sebatas ceplas-ceplos dengan keluarga yang sudah lama tidak bertegur sapa, bisa membantu kita ‘melatih’ otot-otot relasi yang sudah lama kendur karena kebiasaan defensif.

Faktanya, tak ada yang menyangka kalau kesepian akan jadi fenomena yang cuma jadi bahan bercanda. Kebutuhan emosional manusia secara fundamental tidak cukup hanya didekorasi oleh cendera mata kapitalisme yang membuat kita jadi egois dan materialistis. Tatkala kesepian kian menular, sudah saatnya kita memutus rantai epidemi ini dan tidak tabu lagi mendiskusikannya. Tidak perlu bertele-tele untuk memulainya. Ternyata simpel, kok.

Sudah ngobrol dengan siapa saja kamu hari ini?

Referensi:

  • De Jong Gierveld. July 1987. Developing and Testing a Model of Loneliness. Journal of Personality and Social Psychology Vol 53 (1).
  • Holmen K., Kjerstin E., Andersson L. & Winblad B. (1992) Loneliness among elderly people living in Stockholm: a population study. Journal of Advanced Nursing 17, 43-51.
  • Kaufmann J. Single people, single person households, isolation, loneliness; a status report. Brussels: Commission of the European Communities, Directorate General V, 1993.
  • Kraus L.A., Davis M.H., Bazzini D., Church M. & Kirchman C.M. (1993) Personal and social in ̄uences on loneliness: the mediating effect of social provisions. Social Psychology Quarterly 56 (1), 37-53.
  • Rokach A. (1988) The experience of loneliness: a tri level model.
    The Journal of Psychology 122 (6), 531-544.
  • Rokach A. (1990) Surviving and coping with loneliness. The
    Journal of Psychology
    124 (1), 39-54.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.