Kita Nggak Butuh Berita Baik di Situasi Pandemik

Di skenario Covid-19 kayak gini, optimisme yang berlebihan malah bikin kita jadi kewalahan.

Salah Kaprah Optimisme Pemerintah

Semenjak dr. Terawan nyuruh kita rajin berdoa dan solat istigasah, wacana anti-panik Pemerintah udah mulai bekerja. Bisa jadi, itu strategi komunikasi yang dilakoni beliau buat mereduksi kepanikan yang bakal membludak di masyarakat pasca outbreak 23 Januari lalu. Katanya “Enjoy saja”. Dan bener dong, beberapa kelompok masyarakat sampai sekarang masih enjoy-enjoy aja. Enjoy kelaparan sambil muter otak bayar cicilan karena seret pendapatan.

Bias dan Harga Mahal Optimisme

Dalam situasi krisis, permintaan terhadap berita baik makin meningkat. Tentu saja, berita baik jadi bahan baku utama biar kita jadi lebih optimis di tengah krisis. Dari berita soal Tri Dewa yang nemuin ramuan penyembuh virus corona, sampai berita spekulatif yang bilang kalau corona bisa sembuh sendiri, semua itu lebih menenangkan dibaca ketimbang berita soal 1,2 juta pekerja yang kehilangan pekerjaannya.

Kita punya kecenderungan buat lebih memilih mendengar kabar baik daripada kabar buruk, sefaktual apa pun itu.

Ini dibenarkan Neil Weinstein lewat studinya di tahun 1980, kalau orang-orang punya pola optimisme yang nggak realistis ketika ngadepin ketidakpastian di masa depan. Sama halnya dengan ketidakpastian di situasi pandemi yang kita alami. Siapa pun berusaha keras buat menolak mentah-mentah fakta demi kenyamanan psikologisnya dan menghindari rasa takut.