Percayalah, Neraka Itu Ada!

Pagi ini, aku memungut secarik kertas yang terapit di celah engsel pintu apartemenku. Ternyata, itu adalah sebuah surat. Berlukiskan pendulum dan manik-manik gigi silet. Terlihat jelas namaku tertulis dengan tinta mentereng berwarna merah marun. Melukiskan ukiran-ukiran klenik, dengan relik khas era Platon. Sampai-sampai mataku terbelalak melihatnya, di kala logika tak sanggup untuk mencerna kejanggalan itu.

TW//Violence!!!!

Sekonyong-konyong aku teringat sebuah cerita yang hampir serupa dengan kejadian yang kualami. Alan Poe pernah bercerita tentang ini. Tentang dirinya yang menerima surat dari neraka. Tentu saja aku tak berkehendak untuk mengalami hal yang sama dengannya. Justru, aku hampir saja membuang surat itu sejauh-jauhnya. Bagaimana tidak, jantungku berdegup sekencar-kencarnya ketika membaca isinya yang bertuliskan: “ … 24 jam dari sekarang, kau akan mati.”

Kau pikir ini nyata? Coba bayangkan apa yang akan kau lakukan ketika menerima surat seperti ini?

Persis!

Terlintas akal-akalan teror yang konyol bahkan teramat bodoh di benakmu (kalau kau jadi aku). Dengan skenario halloween bocah-bocah St. Peter pemuja permen di Queenstown.

Sayup-sayup diriku berusaha tak mengindahkan pikiran-pikiran yang kalut karena surat itu. Di samping karena aku masih di bawah pengaruh alkohol dan aroma bercintaku dengan Lisa, tak patut kalau pagi-pagi harus berurusan dengan trik murahan anak-anak yatim di St. Peter.

Tanpa keinginan untuk berpikir lagi, kuselapkan surat itu ke kantung celana jinsku dan segera berbalik menuju ranjang di mana Lisa terlentang dan menanti dalam lelap.

Belum lama mataku terpejam, tahu-tahu hidungku sudah membaui aroma menyengat. Sedikit demi sedikit embusan udara di kamar menghantarkan aroma masam, dengan dominasi amonia yang lambat laun berbau busuk dan menusuk penciuman.

Ada yang tidak beres. Entah ketidaksinkronan olfaktori penciumanku, atau memang bau lembap yang biasanya menguar sudah tergantikan dengan sesuatu yang tidak aku kehendaki. Perlahan-lahan, bermunculan kombinasi amonia dan sedikit bau asam isovalerat yang semakin menguat di penciumanku. Hingga sampai kesimpulanku bahwa ini — bau bangkai!

Serta merta tubuhku beranjak dari tidur. Sembari tanganku menutup hidung untuk mengelabuhi penciumanku dengan mengendus telapak tanganku sendiri. Kucoba membuka mataku dengan perlahan, dan ternyata yang kudapati hanya gelap. Kepekatan yang melingkupi pandanganku menjalar ke sekujur tubuhku. Hingga impuls itu menggelayut di pusat saraf tanpa mampu mencerna sedikit pun rangsangan cahaya.

Bagaimana mungkin kamarku bisa menjadi segelap ini?

Sebisa mungkin aku membuang pandanganku untuk berusaha meraba-raba cahaya yang bisa kugapai. Sebab, tak dapat lagi kulihat palas-palas berisi tumpukan buku dengan tiga buah boneka Matryoshka yang diletakan Chloe secara serampangan sewaktu berkunjung pekan lalu. Tepat di sisi sebaliknya, bersandar sebuah gitar Stratocaster keluaran tahun 1961. Di atas gitar tersebut, mencolok sebuah buku berwarna kuning usang berjudul Discourses on Livy sepeninggal Machiavelli yang tak dapat kutangkap lagi bayangannya oleh mataku.

“Hanya memastikan kau masih hidup dan makan teratur,” ujar Chloe dengan gelagat khas nyenyehnya. Sementara aku masih keberatan. Sebab, aku tak mengira kalau ia akan datang di musim dingin tahun ini. Sejak kedatangannya itulah, aku mulai memusingkan Strat yang sudah berlumuran debu dan hampir usang ditelan waktu.

Lantaran Chloe tercekat dan berseloroh seenak jidat, “Lihat, bahkan satu-satunya hal yang membuatmu hidup sampai saat ini pun tampak terabaikan. Mungkin beginilah dunia mengabaikanmu, seperti kau mengabaikan gitarmu. Borok dan usang.” Alih-alih ia terkekeh, hampir saja aku melempari dia dengan botol Vodka karena tak tahan menahan berang.

Hingga akhirnya, urung sudah intensi berkedok kekesalan ketika kerinduanku mulai membawa memori indah lima tahun silam. Ketika suara gitar menyuar diiringi sayup-sayup riuh orang yang menyaksikan penampilanku tiap malamnya.

Kalau diingat lagi, hampir semua pub terkenal dari Lincoln hingga Dunedin pernah kudatangi. Walaupun tak semua pertunjukanku memakai Stratocaster, tapi percayalah, hanya itu yang tersisa dari ingar bingar karir musikku. Hingga akhirnya redup dan menggelap.

Lantaran terjebak dalam nostalgia tak berkesudahan, akhirnya kusadari diriku tercenung cukup lama. Sebab, tak dapat lagi kulihat corak bunga inai di tirai yang selama ini setia menghalau cahaya yang jatuh saat senja. Walaupun jejak bayangannya masih tertinggal di dalam khayalanku. Pun seharusnya, melekat tiga set bunga portulaca yang menjuntai membelai mulut jendela kala angin berhembus dari luar kamar.

Sambil sedikit mencoba merasakan permukaan lantai parket, dengan perlahan kutapaki kedua kakiku untuk berdiri tegak. Bahkan sudah kupastikan dengan tanganku, tidak tertinggal sedikitpun jejak Lisa yang seharusnya masih tertidur di sampingku saat ini. Kendati mulutku bergumam memanggil-manggil namanya, hanya kecemasan yang melesak naik menghembuskan sesak.

Kurasakan embusan angin menyambar permukaan wajahku. Dingin. Berpilin-pilin aroma busuk mendadak tersingkap. Naluriku berdendam, diikuti dengan pukulan jantung yang bertalu-talu kencang. Kupaksakan langkahku menggapai lebih jauh mengikuti sumber angin tersebut sambil menjamah kegelapan bagai unta buta di tengah gurun.

Hingga pada langkah berikutnya, kurasakan jariku menyentuh lekukan gagang pintu. Permukaannya seperti musim dingin di Milford Sound, sampai-sampai, kuraba-rabai karat yang mencokol di bagian bawah kenop tersebut. Kutandaskan keberanian dalam benak. Lalu, kuputar pergelangan tanganku dengan posisi tubuh yang mendesak masuk.

Belum sempat kepalaku melongok ke dalamnya, sekonyong-konyong pendaran cahaya asfar menyeruak menyerbu mataku. Desakan sinarnya membutakan, membuat kedua tanganku menelungkup menutup wajah. Hingga meredup cahaya lampu menyerik, kuajak mataku mengembara menyusuri setiap bagian ruangan yang diterpa oleh cahaya.

Baik.

Kau tak akan percaya tentang ini. Bahkan, Tuhan pun mungkin tidak.

Bercengangan seluruh kesadaranku. Ketika kudapati tubuh Lisa yang tergeletak di atas bak mandi, telah tersibak menjadi bagian-bagian yang terpisah — kepalanya tercerabut! Lengan kanannya terpotong tak karuan. Disertai pangkal kaki yang terselap di antara selangkangan yang sudah tidak bertungkai lagi. Kucermati bercak-bercak darah; menjadi satu-satunya warna yang benderang melumuri dinding putih; bak yang hampir tak lagi putih; wastafel terabaikan yang warna putihnya membercak; hingga lantai yang bergeming bermandikan darah.

Oh, tidak! Kau lebih tak percaya ini.

Akal sehatku masih belum bisa menerima kehadiran sosok yang tidak logis untuk dibayangkan. Di hadapan bak mandi itu, bergeming makhluk dengan postur tinggi menjulang dengan posisi membungkuk. Terberumbum tanduk — Ya! Tanduk yang mencuat dengan ujung runcing ibarat sepasang tombak ganjur. Andai kau dapat melihatku saat ini, tampak jelas mataku bagai ikan mati dan wajahku seraya habis keluar peti!

Terasa deras aliran darah terpompa lebih cepat, membikin kepekaan indera penglihatanku lebih tajam, diiringi ritme perkusi jantung dan gendang telinga yang mulai berdedah.

Perlahan-lahan, kematian menggerogoti kesadaranku. Oh, sungguh, aku ingin lari dari pemandangan ini! Sungguh, konsepsi penglihatan ini — benar-benar di luar akal sehat!

Diriku meracau dan perasaanku berkecamuk hebat. Kepanikan berdesiran di setiap ujung saraf-sarafku, namun, sedikitpun tak memengaruhi kinerja motorikku. Terpaku dalam kengerian, kalut dalam kecemasan. Hingga kusaksikan ayunan ekor — ya, ekor! Ia menyembul dari pangkal bawah punggungnya. Bergayut dengan ujung tajam bagai pisau dapur.

Iblis! Itu iblis!

Dengan seksama, beserta sekelebat kengerian yang melingkupiku, kupaksakan diriku untuk mendekati makhluk itu. Kedua tangannya yang sedang sibuk mengacak-acak potongan tubuh Lisa itu terlihat jelas sekarang. Mulutnya mengerkah bagian tangan Lisa yang masih melekat dengan badannya, lalu … dari ujung bibirnya, sebelum ia menyelesaikan gigitannya … ia tersenyum.

Jelas sekali, ia tersenyum. Menjijikan! Dan senyuman itu, untukku. Benar-benar untukku!

Walaupun waktu tidak dapat lagi diterka sebab kesadaranku berhenti bergulir, (lantas, apa gunanya waktu tanpa kesadaran manusia) hanya diriku yang hampir terduduk di atas lantai kamar mandi, menghirup bau pesing dan amis darah. Oleh kilatan-kilatan lampu yang mulai pudar, serentak, sekelumit kebengisan terpampang di hadapanku. Dan jiwaku, sedapat-dapatnya terhanyut oleh aliran sungai Flegheton yang menjelma menjadi entitas yang luar biasa mengerikan.

Kau bisa saja tertawa terbahak-bahak saat ini, ketika lambat laun diriku diterkam oleh suara jantungku yang mengaduh. Kalau-kalau neraka riuh karena gemuruh siksa Tuhanmu kepada para pendosa, barangkali Dia dapat mendengar degup jantungku saat ini. Kendati demikian, kau akan lebih terkikik, tercekik oleh bualan yang aku sendiri sedang berusaha gambarkan kepadamu sebentar lagi.

“Lihat apa?” sosok itu menyentak. Suaranya dalam, seperti membahana dari palung yang tak berdasar.

Terhunjam sekelebat kegetiran yang membuatku membeku dalam diam. Terlebih, yang baru saja kudengar adalah ribuan lolongan jutaan orang yang membuatku tergeragap. Terdengar melengking dan menyakitkan, namun jauh — jauuuuh sekali. Rasa sakit yang mengerubuti pendengaranku membuatku berteriak sejadi-jadinya.

Kala tanganku bersandar di sisi pintu kamar mandi, serta mataku yang setengah mati terbuka menahan sakit, kupaksa melirik sosok itu; ia tak menggubris teriakanku dan hanya sibuk mengulum tubuh Lisa; potongan demi potongan.

“Kenapa berteriak?” tanya iblis itu, datar. Aku hanya terdiam menahan napas. Kemudian berbaliklah dia (dengan baik hati sekali) menunjukkan seluruh penampakan tubuhnya kepadaku.

“Tak perlu kaget dan bergelagat jadi korban, aku di sini untuk menjemputmu,” lanjutnya sambil menggawat potongan pangkal paha Lisa, dan digigitnya itu bagai makan ayam panggang.

Berkecamuk jiwaku; berceracau mulutku — tak karuan!

Apa yang akan kau lakukan kalau yang saat ini kau tatap adalah sepasang mata melotot berwarna kuning telur, dan ia menghunjammu dengan kekosongan? Dengan alis mata menganjur tajam, yang sekujur tubuhnya diliputi kulit pucat terkelupas berwarna putih nanah, telanjang bulat, buncit — dan saat ini ia sedang menyeringai kepadamu. Asal kau tahu, hal yang paling membuatku mual adalah bagaimana zakarnya menggelantung, seraya ditopang oleh batang penis yang lebih nampak seperti acar busuk bernanah.

Tak disangka-disangka, iblis itu bangkit dan mendekat. “Coba pertimbangkan lagi, soal surat yang kau terima tadi,” tuturnya. Sambil ia seret tungkai kakinya yang nampak rapuh dan berukuran lebih kecil dari lengannya. “Ya, ya, aku tau kedatanganku ini tidak masuk akal. Tapi, surat yang kau terima itu, tentu, menjadi tiket utama untukku mengantar kematianmu.” Mendengarnya, lekas-lekas tanganku merogoh kantung jinsku memastikan surat yang kuselapkan sebelumnya. Kurasakan sebuah kenyataan bahwa surat itu benar-benar nyata.

Suaranya yang sempat menggelegar, kini meredup dan ramah diterima oleh gendang telingaku. Yang kuanggap dia hanya berceracau, parau, hingga kuberanikan diri untuk bertanya tentang status kematianku. Walaupun suaraku sendiri seolah berhati-hati untuk menggertarkan udara di hadapan iblis itu.

“Ya. Kalau belum, tidak mungkin kau dapat melihatku sekarang. Kalau belum, ada satu hal yang ingin aku tegaskan, tidak semua kematian akan dijemput oleh malaikat. Tentu, ada aku, si kebalikan.” Iblis itu merespons sambil tergelak-gelak, seolah aku di hadapannya hanya moron yang dijadikannya lelucon. Namun dengan polahnya yang demikian, entah, kengerianku yang eksklusif dengan wujudnya yang menjijikan itu mulai mereda dan memudahkanku untuk berceloteh dengannya.

Tetap teguh dengan kehati-hatianku berbicara, kuredam sedalam mungkin suara yang keluar dari tenggorokanku. Lantas, terbawalah aku dengan bertalah-talah kiasan yang disampaikan mama waktu baru saja tubuhku tahu caranya ereksi, “Ketika dirimu merasa takut, maka di saat bersamaan akan muncul keberanian yang membuatmu kalut.” Tentu saja teori tersebut tak lagi kutampikkan — selain berbuah menjadi kenyataan!

Beruntungnya aku ketika langkah iblis itu terhenti, berkat keberanianku berserapah di hadapannya. Mungkin. Walaupun tak terlihat lagi sisa-sisa potongan tubuh Lisa, tak ada sedikitpun rasa berduka atas kehilangan nyawa dan tubuhnya. Justru, yang hendak kurayakan adalah keberanianku bersuara tanpa sedikitpun perasaan ngeri. Aku tersenyum — tentu saja, apalagi yang bisa kubanggakan saat ini?

“Begini, Bocah. Kalau kau hanya mengoceh dan mencari jawaban, ini begini, itu begitu, berdoa sajalah!”

Lantas, kelalaianku membiarkannya menjadi sedikit murka sehingga membikin ekornya menggayut ke arah perutku. Tak ada sedikitpun syaraf reseptor yang menggelinjak, atau hanya memberi jarak agar terhindar dari tikaman ekornya. Seraya aku melihat ujung ekornya yang membenam semakin dalam di perutku, masih tak terlihat kucuran darah ataupun isi perutku yang akan berceceran mengotori lantai. Justru, tak lagi kurasakan keberpihakan jiwaku terhadap tubuhku sendiri. Aneh. Kecenderungan rasa sakit, yang kuilhami sebagai pemberian Tuhan yang paling logis pun — lenyap!

Kusorot sedikit sosok iblis itu yang mulai melangkah mendekat. Tak ada sedikit pun lubang yang ditinggalkan. Kecuali, hanya terlihat sobekan di pakaianku yang nyata untuk diterima akal sehat. Sembari diriku sibuk membenahi kesadaran, tak kusadari — oh Tuhan! Dia terlalu dekat!

“Bagaimana? Tak ada lagi hal yang nyata, dan sebenar-benarnya Tuhan adalah Ia yang mematikan. Sampai jumpa,” tuturnya.

Sekali saja kulihat mulutnya melebar, rasanya jiwaku terhisap ke dalamnya. Aku ditelannya. Terkoyak sudah! Gelap. Ditelannya aku hingga tak ada lagi yang tersisa, jikalau asa tak lagi berwujud rasa, pastilah hanya akan tersisa dosa.

Pasti hanya dosa.

Aroma belerang yang lembap melesak masuk ke dalam penciumanku. Bau tanah liat dan amis air laut samar-samar mulai mengikuti. Kurasakan tubuhku diseret, sedangkan mataku rasanya seperti dijahit rapat-rapat. Tak ada yang lebih memilukan dari ketidakmampuan panca indera untuk mengetahui keadaan. Dan, lagi-lagi yang bisa kuandalkan hanya penciuman dan keakuratan kulitku untuk merasakan suhu di sekitar tubuhku. Bagi penikmat kejutan, mungkin itu adalah sebuah kenikmatan tersendiri. Sedangkan bagi korban siksaan, itu adalah sebuah awal untuk masuk ke dalam khayalan yang mengerikan.

Dalam keadaan absurd seperti ini, perlahan, kurasakan panca inderaku mulai berada pada kepekaan yang signifikan. Bodohnya aku, ketika baru saja kusadari leherku terikat oleh besi sembrani yang bergolak. Andai saja aku masih bisa merasakan rasa sakit, mungkin otakku sudah mendidih dan meledak beberapa saat kemudian.

Aku mendengarnya: suara siulan! Datar dan tak berirama. Merangsang udara di sekitarku untuk menyergap keingintahuanku. Bahkan untuk kemungkinan yang paling mengerikan sekalipun aku tak peduli lagi.

Susah payah kubuka kelopak mataku. Hingga akhirnya, dalam keadaan terseret dan terlentang, kusaksikan susunan batu tak karuan yang menjulang membentuk gerbang. Di pucuk tertinggi gerbang tersebut terlihat susunan huruf menyerupai huruf hieroglif. Setelah kuratapi dengan seksama, aku sadar bahwa ukiran-ukiran tersebut tidak menyiratkan pesan apapun selain menimbulkan kekhawatiran yang mengerikan.

Kubiarkan rasa takutku membikin kepalaku menjelangak. Sekali saja kutolehkan pandanganku ke sisi lainnya, kudapati sosok iblis yang berjalan membungkuk membelakangiku sambil menarik rantai besi yang melingkupi leherku. (Ternyata suara siulan yang sumbang itu keluar dari mulutnya). Tetapi, ia tak menoleh sedikitpun ke arahku.

Syukurlah.

Aku melihatnya: burung-burung seperti gagak berkepala dua membayang-bayangiku dari ketinggian. Lalu, mataku tergelincir untuk menyaksikan pohon-pohon di sekitarku yang menyerupai rambut, dilingkupi aroma sulfur dan udara berwarna merah darah. Sebentar saja kudengar air mendesis sekaligus suara lolongan dari kejauhan perlahan semakin jelas terdengar.

Tiba-tiba saja iblis itu bergeming dan berhenti menyeretku. Ia menoleh ke arahku, dan tetap saja sulit bagiku untuk mencapai kedalaman matanya. Lalu, ia bersungut-sungut pada sekelompok ‘orang’ tak berwajah. Sulit bagiku untuk memastikannya, tapi sekelompok orang itu tidak berwajah dan telanjang! Lantas, setelah meneriaki mereka, ia dengan perlahan mendekati tubuhku yang gontai.

“Dan, tibalah kau pada siksaan. Sebentar lagi, sebentar saja. Silakan bertamasya selagi Dia masih mengizinkan,” bisiknya di depan wajahku.

Sungguh, hawa mencekam mulai menggerogoti kesadaranku setelah kusadari didekatku ada palung yang menganga dengan bara api yang menyala-nyala. Dengan limbung, kubawa tubuhku untuk berdiri dan menanyakan padanya, apa maksud dari ‘tamasya’.

Ia terkekeh, “Kau sudah sampai. Dan dengan senang hati, akan kuantarkan jiwamu ke perapian.”

Seketika, tangan iblis itu mencengkram kepalaku. Dan dengan mudahnya, ia hempaskan tubuhku ke dalam palung yang beringsang. Selagi kesadaranku terlempar, mendadak muncul rasa sakit yang membahana ke sekujur tubuhku.

Ceroboh. Aku ceroboh!

Seketika, kurasakan tubuhku menghantam bebatuan. Sedikit demi sedikit, kepalaku meletup-letup bersimbah bara api yang mendidihkan kepalaku. Panas! Oh Tuhan! Panas! Aku berteriak sekencang-kencangnya, menahan sulutan api yang menyengat; dan berkehendak untuk memuntahkan jantungku dari tenggorokan!

Kesadaranku … mulai kacau! Mulutku meracau meminta pengampunan! Sumpah, aku percaya! Sumpah! Neraka itu ada!

Hingga kurasakan dagingku terkeloyak oleh api, dan diriku mulai —

— kurasakan aroma kayu manis dan bergamot menyeruak ke dalam rongga penciumanku. Perlahan-lahan, kubiarkan cahaya dari jendela mengurai selaput mataku. Di sana, kudapati Lisa bermandikan sinar mentari. Kian mendekat pada sosoknya, kian terjerat diriku pada bayangannya. Akan kudekap, hingga ia tahu kalau aku mencintainya.

tamat [.]