Tukang Besi

Nurhayati enggan berharap lebih. Melalui lambaian tangannya, kereta api Gaya Baru Malam Selatan melengos membawa bapaknya pergi ke Bekasi. Tak lagi ia dengar kisah Punakawan atawa Petruk yang lamat-lamat ia dengarkan tiap hendak tidur di malam hari. Atau mungkin sekadar cerocos bapaknya tiap kali menang sabung ayam. Di benak Nurhayati saat ini, bunyi kereta api lebih memekakkan daripada berpuluh-puluh ucapan perpisahan.

“Bapak pergi, Buk! Bapak pergi!” teriak Nurhayati.

Roman di wajah Ibu Nurhayati tak pernah semringah seperti Nurhayati yang mengasyiki kepergian bapaknya. “Justru ibuk-mu ini bingung, Yati, dari tadi ndak’ ngomong apa-apa ke bapakmu.”

Sambil mengawat lengan Yati, wanita dengan rambut diikat karet sayur itu hanya bungkam menahan gamam. “Justru ibuk-mu ini bingung, Yati, besok-besok makan apa kita,” gumamnya sambil membenarkan daster yang hampir tergelincir dari pundaknya itu.

Nurhayati mendongak ke arah ibunya. “Santai saja to’, Buk? Masih ada garam sama kering tempe, kok,” ujarnya menenangkan. Di antara hilir mudik orang-orang di stasiun, mereka memutuskan untuk rehat di bangku yang tak jauh dari plang pengumuman keberangkatan.

Kalau saja Van Gendt bangkit dari kubur, ia dengan senang hati akan mengurungkan niatnya membangun Stasiun Pasar Senen. Bagaimana bisa model romantik dari karakter venakular bangunannya hanya menjadi saksi bisu bagi orang-orang menyedihkan di Stasiun Senen. Bagaimana bisa atap teritisan yang dibangun untuk menghalangi air hujan, beralih fungsi menjadi pelarian dari bisingnya lagu Kicir-kicir yang dimainkan sebelum kedatangan dan keberengkatan kereta.

“Buk, lihat!” Nurhayati menunjuk deretan jendela atas stasiun yang nampak berlumang debu. Mengetahui kalau ibunya baru membersihkannya dua hari lalu, ia pun berjingkrak-jingkrak. “Asyik! Dapat gocengan, Buk! Ayok, kita bersihin sore ini, ya, Buk!”

Namun, Ibu Nurhayati lebih tahu kalau mereka tidak akan mendapatkan uang lima ribu tambahan sore ini. “Ndak iso to, Nduk. Kita cuma dapet jatah seminggu sekali,” jelasnya kepada anak perempuannya itu. Setidaknya dengan uang lima ribu tambahan, mereka bisa membeli telur untuk menambah tumpangan yang singgah di perut mereka.

Khawatir anaknya kecewa, Ibu Nurhayati membungkuk sambil berbisik: “Besok, ibu kebagian nyuci di warung Sri Wengi. Tenang saja. Nanti, tak bawak plecing kangkung buat Yati, yo.”

“Terus, nanti malam makan apa, Buk?”

Ibu Nurhayati hanya menggeleng tidak tahu dan tersenyum.

Seraya senyum di antara mereka hendak terbit, tiba-tiba saja suara yang akrab di telinga mereka hadir menggelegar ke penjuru stasiun melalui pengeras suara. Dibuatnya Nurhayati beranjak dan bergeming dari tempat duduknya.

“Suara Mbak Yani?” tanya Nurhayati sambil mendongak-dongak memastikan.

Ibu Nurhayati ikut bangkit seraya mengingat sesuatu. “ Iya. Aduh, kemarin ibu lali mendoannya kurang satu.”

Lalu mereka berdua pun bergandengan meninggalkan stasiun tanpa sedikit pun mengingat perpisahan yang baru saja terjadi.

Nurhayati dan ibunya keluar menyusuri lorong Stasiun Senen. Bagi siapa pun yang kehilangan suami, tidak ada sedikit pun langkah yang lebih menyenangkan untuk saling meninggalkan dan melupakan. Terlebih bagi Ibu Nurhayati.

Istri mana yang ingin bertahan dengan suami jelmaan Semar yang hobi kentut dan dolanan santet. Sungguh jauh berbeda dengan Kliwon, selingkuhannya di warung Sri Wengi. Seorang pria asli Pati yang gemar yasin dan joging. Itu semua dimulai sejak mereka saling cumbu di selasar warung. Dan untuk pertana kalinya, barulah ia merasakan ada orang lain yang ia bisa bagikan getih dan mani.

Selama ia menjalani hidup untuk hari ini dan besok, tak pernah ada waktu baginya dan suaminya untuk saling mengisi selain membenci. Tak jarang Kliwon sembunyi-sembunyi memberikan Nurhayati uang jajan dan makanan tambahan. Kalau saja suaminya tahu, hidupnya akan habis menyaksikan perang antara yasin dan santet.

Gusti nu Agung versus Kyai Semar.

Namun Ibu Nurhayati sangat tahu kalau keduanya (mau Gusti Agung atau Kyai Semar) tidak akan pernah merubah keadaan. Kalau hidup memang pilihan, kenapa cuma kemiskinan yang satu-satunya bisa dipilih? Sejak ia mempertanyakan itu, tak ada lagi mimpi bagi perempuan seperti dia selain menerima pukulan dan lowongan kerja ke pelacuran.

Setelah melewati bayang-bayang atap teritisan, langkah mereka terhenti oleh suara seseorang yang memanggil. Seorang pria berbadan bongsor gapah-gopoh menghampiri mereka. Sambil memperhatikan pria yang susah payah menghela napas, Ibu Nurhayati menyapa. Nurhayati sendiri hanya senyum-senyum memperhatikan.

“Loh, ada apa Mas Irwan?”

Iki loh, Bu, suami sampean we engge utang karo aku,” tuturnya dengan logat Solo yang tergesa.

Ibu Nurhayati terperanjat mengetahuinya. Wanita itu susah payah mengenyahkan rasa malu sebelum menelan kenyataan. Air muka yang semringah sebelumnya, kembali menjadi nahas.

“Utang apa lagi, Gusti. Si Bapak ndak ada kasiannya sama ibu,” keluhnya dengan pilu.

Rasa simpatik mulai terlihat di sorot mata Mas Irwan. “Eh, ya sudah, Bu. Wong cuma seratus ribu,” tuturnya, “Nanti aja kalau bapak wis muleh — dari Bekasi.”

Ibu Nurhayati menunduk. “Ndak akan balik lagi, Mas.”

Mendengarnya, Mas Irwan hanya antap tanpa keinginan bertanya lebih dalam.

Nurhayati bersemangat melihat kerumunan orang menyesap es krim dari toko kecil di seberang stasiun. Ia melongok ke arah ibunya dan Mas Irwan dengan tatapan penuh pengharapan.

Pria dengan dasi dan lencana satpam itu membungkuk. “Mau, Nduk?”

Nurhayati jengah dan bersembunyi di balik daster ibunya. Melihat itu, Mas Irwan dan Ibu Nurhayati hanya bersemuka. “Makasih, Mas. Tapi, Yati gak suka es krim,” ibunya berkelakar.

Nurhayati keluar dari persembunyiannya. Ia menatap Mas Irwan dengan maksud untuk memberi tanda kalau apa yang ibunya katakan tidaklah benar.

Jadi pernah suatu hari Nurhayati pulang dengan bersimbah air mata. Ia meronta-ronta di samping gubuk tempat bapaknya sabung ayam — minta es krim. Awal mulanya, bapaknya menjerkah kalau dia itu anak setan. Membikin Nurhayati geram dan takut setengah mati.

Bapakmu ini ndak pake dasi! Boro-boro makan nasi! Kamu malah mintak es krim. Anak setan! Begitulah kalimat yang nempel di kepala Nurhayati. Bersamaan dengan dinobatkannya dia menjadi anak setan, ia nobatkan pula kalau es krim itu jajanan setan. Dengan perasaan angkuh, ia berdiri dan melaknat siapa saja yang membeli es krim sebagai “anak setan”.

Namun, keteguhannya pudar ketika Kliwon membawakannya es krim “mahal”. Di situlah ia berdalih, kalau “anak setan” itu yang makan es tong-tong. Es krim orang miskin! Benaknya mengaduh dan menuduh. Sejak saat itu, ia mencintai es krim “mahal” lebih dari yang ibunya ketahui. Tentu saja ketika ada yang menawarkannya es krim “mahal” secara cuma-cuma, alasan apalagi yang bisa ia gunakan untuk menolak?

Nurhayati memberanikan diri untuk bersuara. “Mas, aku mau es krim. Tapi kalau aku nolak tawaran Mas e, berarti utang bapak Yati lunas, yo?”

Mas Irwan terkekeh. “Ya sudah. Utang bapakmu lunas, tapi tetep kamu tak beliin es krim, yo.”

Ibu Nurhayati tak kuasa menghalau rasa tak nyaman. “Udah, Mas. Ndak usah. Nanti, tetep tak bayar utang bapak, ya,” jelasnya.

Dengan tatapan menenangkan, Mas Irwan mengelus pundak Ibu Nurhayati sambil menggeleng dan mengatakan tidak apa-apa. Lekas-lekas Nurhayati menarik tangan Mas Irwan supaya segera membelikannya es krim, sedangkan Ibu Nurhayati masih tercenung.

Melompatlah Nurhayati dengan kegirangan menyebrangi jalan. Dari dekat, terbitlah suara klakson motor bebek yang mendengung memperingatkan.

“Nur!” teriak Ibu Nurhayati yang menyaksikan anaknya berlarian dengan ceroboh di tengah jalan.

Tanpa aba-aba, Mas Irwan melompat dan menarik lengan mungil Nurhayati dan membawanya ke dalam dekapannya.

Astagfirullah, Yati. Hampir saja.” Tarikan napas Mas Irwan, menjadi penanda kelegaan kalau Nurhayati baik-baik saja.

Dari dekapannya, Nurhayati mendongak dan bergumam: “Lah, Bapak ndak akan pulang,” bingung, Nurhayati lanjut bertanya, “Nanti malam makan apa?”

Mendengar itu, Mas Irwan kebingungan dan cepat-cepat menyerahkan Nurhayati ke ibunya.

“Jadi, kamu mau beli es krim apa, Nduk?” tanya Mas Irwan dengan raut terheran-heran.

Ndak jadi es krim. Beras aja sekilo mau, Mas?”

Ibunya yang sedang sibuk membenarkan degup jantungnya hanya gusar mendengar pinta anaknya.

“Loh, nanti malam makan apa, Buk?”

Mas Irwan dan Ibu Nurhayati bertatapan dan menggeleng.

Di perjalanan kembali ke rumah, masih berkelit di kepala Nurhayati tentang “makan apa nanti malam”. Ibu Nurhayati yang sedari tadi murung, hanya berusaha mensyukuri utang yang tak lagi menjadi beban tambahan. Ia juga tak lupa bersyukur atas keselamatan Nurhayati. Kalau-kalau Nurhayati tertabrak tadi, entah berapa ratus ribu uang yang harus dikeluarkan untuk berobat.

Dengan lengan yang terkancing di tangan ibunya, sempat-sempatnya Nurhayati bertanya: “Ibuk! Jadi, kita makan apa malam ini?”

“Makan besi,” jawabnya pasrah.

Tibalah mereka di hadapan gubuk yang menyambut dengan papan bertuliskan “Bengkel Las Joko”. Gubuk itu tak lebih dari tumpukan-tumpukan besi yang di antaranya adalah besi baja rel curian bapaknya yang sudah dipotong-potong menjadi ukuran lima senti. Di sebelah gubuk yang penuh dengan aroma karat, bertenggerlah sebuah mobil bekas angkot yang dijadikan mereka sebagai tempat tidur.

Sesegera matanya menyaksikan rumah kecintaannya, Nurhayati melepaskan genggaman ibunya dan seanteng mungkin mengabaikan fakta kalau malam ini mereka akan makan besi, sedangkan ibunya malah akan pergi meninggalkannya ke pasar. Tangannya sudah piawai menjadikan potongan besi sebagai mainan rumah-rumahan dan mobil-mobilan berbi yang ia tempeli bungkus Rinso sebagai pakaiannya.

Sehari-hari Ibu Nurhayati menjaga dagangan orang di pasar Senen, atau hanya sekadar cuci piring di warung Sri Wengi untuk mengisi perut sekeluarga. Sedangkan suaminya hanya lenjeh-lenjeh memelihara besi. Walaupun besi-besi karat itu hanya tampak seperti koleksi suami pengangguran, tapi sewaktu-waktu besi-besi itu bisa saja meninggalkan bekas di tubuh Ibu Nurhayati, kalau-kalau ia cuma bawa pulang uang sepuluh ribu.

Melihat terik semakin menyerik, Ibu Nurhayati pamit dan bergegas menuju Pasar Senen, tempat ia mencari seribu dua ribu.

“Ibu ke pasar dulu.”

Tercetuslah sebuah niatan untuk kembali membeli es krim. Dengan mulut kering dan perut yang lapar, Nurhayati membulatkan tekad untuk kembali ke stasiun dan menagih tawaran es krim ke Mas Irwan.

Mas Irwan yang berdiri di bawah tiang parkir terkejut ketika melihat Nurhayati menghampirinya. “Eh, ada apa, Nduk?”

Dibalut kaos compang-camping yang dua kali lebih besar ukurannya dari badannya, Nurhayati memaksa Mas Irwan untuk menunduk dan mendengarkan.

“Mas, Yati pengen es krim. Panas di sana, Mas. Kayak kebakaran,” pintanya sambil menunjuk-nunjuk lehernya yang kering.

Tersenyumlah pria itu. Dengan perasaan simpatik, dia pun menggandeng lengan Nurhayati. “Kamu boleh beli dua atau tiga buat dibawa pulang.”

Walaupun terik matari mencekik leher, tapi siang itu rasanya matari bisa membakar apa saja yang ada di bawahnya. Tiba-tiba saja dari arah pasar, sekonyong-konyong orang berteriak meminta air. Sayang sekali, itu bukan air untuk diteguk dalam upaya membasahi kerongkongan.

“Kebakaran! Kebakaran!”

Siang itu lebih panas dari hari-hari biasanya. Pasar Senen sebelah barat hangus tak tersisa. Berpuak-puaklah suara sirine serta kerumunan yang berteriak “Allahu Akbar”. Nurhayati hanya menghiraukan es krim yang sudah ia lumat habis. Kendati Mas Irwan hanya terjerembap pada kenyataan kalau tempat tinggal Nurhayati pun ikut hangus dilahap api.

“Yati,” rintihnya dengan nada tersedu-sedu.

Dari kejauhan, seorang wanita paruh baya berlari dan berteriak-teriak memanggil Nurhayati. Tahu bahwa Nurhayati tak sendiri, ia memilih membisiki Mas Irwan kalau ibunya tak selamat. Ketiban atap beton. Menjadi-jadilah tangis Mas Irwan menelan ironi. Yang ia bisa lakukan, adalah memeluk Nurhayati sekencang-kencangnya. Namun, hal itu belum tentu bagi Nurhayati.

“Kan Yati udah bilang tadi, di sana panas,” tuturnya dengan wajah cemberut.

Seketika Nurhayati bertutur, lepas pula pelukan Mas Irwan beserta dengan tangisannya yang turut berhenti.

“Yati tahu di sana kebakaran?” Walaupun sendu masih ramah di nada bicaranya, tapi rasa penasaran nampak lebih menonjol dari pertanyaannya. “Yati, ibumu. Ibumu ndak selamat,” lanjutnya.

“Ibu? Ibu emang ke sana,” jarinya menunjuk kerumunan, “Tapi ndak janji pulang, tuh.”

Tak ada lagi air mata di wajah Mas Irwan selain sorot mata rancap yang menghapus keramahannya.

“Ya, saya marah, Mas! Masa disuruh makan besi?” tegas Nurhayati sambil berkacak pinggang.

Mas Irwan pun hanya datar meresponsnya. “Jadi, kamu mau makan apa sebenarnya?”

“Makan besi.”

Nurhayati tersenyum.

[selesai]

Bandung, 9 Mei 2015. Dari aku yang sudah makan besi, untuk kamu yang belum pernah makan besi.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.